Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Pagi itu, 79 peserta berkumpul di PP University, Puncak Gadog, Bogor, untuk mengikuti kegiatan yang berbeda dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Tidak ada meja kerja atau agenda rapat. Sebagai gantinya, sejumlah tantangan sudah menunggu untuk mereka hadapi bersama. Kegiatan diawali dengan opening dan ice breaking bersama Game Master. Suasana perlahan mencair ketika peserta mulai berinteraksi dan membangun keakraban dengan rekan-rekan lainnya.

Namun, kegiatan pagi itu memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar bersenang-senang. Melalui STAR Program 48 PT PP (Persero) Tbk, para peserta yang memasuki babak baru sebagai pegawai tetap diajak membangun kesiapan menjadi bagian dari satu tim. Mengusung tema “Forging Resilience, Growth, and Character Together as One PP Team”, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat Resilience, Growth Mindset, dan Learning Agility, dengan nilai-nilai AKHLAK sebagai fondasinya.

Bersama Duage Team Building, peserta diajak memahami kemampuan tersebut melalui pengalaman langsung, mulai dari menghadapi tantangan, menyusun strategi, hingga belajar dari proses yang mereka jalani.

Ketika Tim Dihadapkan pada Tantangan Baru

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Tantangan pertama dimulai dengan Geodesic Dome, didampingi Team Coach Gigih Gesang. Peserta dihadapkan pada sejumlah material yang harus disusun menjadi sebuah struktur berbentuk kubah. Untuk menyelesaikannya, mereka perlu memahami panduan, membagi peran, dan memastikan setiap bagian dapat terhubung dengan baik. Ada yang mulai mempelajari panduan, ada yang mencoba menyusun strategi, dan ada pula yang langsung mengambil inisiatif. Namun, tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.

Beberapa bagian perlu diperbaiki. Tim harus kembali melihat apa yang sudah dilakukan, menyesuaikan cara kerja, lalu mencoba kembali. Dari proses ini, peserta mulai menghadapi situasi yang juga sering ditemukan dalam pekerjaan. Tidak semua tantangan datang dengan jawaban yang langsung tersedia. Terkadang, tim perlu belajar sambil menjalankan prosesnya.

Selesai Bermain, Tapi Belum Selesai Belajar

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Setelah Geodesic Dome selesai, peserta tidak langsung berpindah ke permainan berikutnya. Mereka kembali berkumpul untuk mengikuti sesi refleksi bersama Team Coach Gigih Gesang.

Bagaimana kelompok mulai bekerja? Siapa yang mengambil inisiatif? Bagaimana keputusan dibuat? Apa yang dilakukan ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak peserta melihat kembali pengalaman yang baru saja mereka jalani.

Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa, seperti pembagian tugas, cara menyampaikan pendapat, atau keputusan untuk mengubah strategi, ternyata memiliki pengaruh terhadap hasil kerja tim. Melalui diskusi, pengalaman dalam permainan mulai dihubungkan dengan situasi nyata di tempat kerja. Karena terkadang, pembelajaran tidak hanya muncul ketika sebuah tim sedang melakukan sesuatu, tetapi juga ketika mereka memiliki waktu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi selama proses tersebut.

Lima Tantangan, Berbagai Cara untuk Belajar

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Perjalanan kemudian berlanjut melalui lima tantangan yang dijalankan secara bergantian, yaitu Toxic Waste, Lego Building, Da Vinci Bridge, Pyramid Box, dan Balancing Ball.

Setiap permainan menghadirkan persoalan berbeda. Ada yang membutuhkan komunikasi yang jelas, koordinasi gerak, pembagian peran, hingga kemampuan menyesuaikan strategi ketika menghadapi kesulitan. Cara yang berhasil pada satu tantangan belum tentu cocok digunakan pada tantangan berikutnya. Setiap kelompok perlu memahami situasi, mencoba pendekatan baru, dan belajar dari pengalaman sebelumnya. Melalui proses tersebut, peserta diajak mengenal tiga kemampuan yang menjadi fokus STAR Program.

Resilience, kemampuan untuk bangkit dan tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan. Growth Mindset, kemauan untuk belajar dan memperbaiki cara kerja. Sementara Learning Agility, kemampuan memahami situasi baru dan menyesuaikan pendekatan ketika menghadapi perubahan. Ketiganya tidak hanya menjadi materi yang dibicarakan, tetapi juga bagian dari pengalaman yang dijalani peserta sepanjang kegiatan.

Melihat Kembali Cara Tim Bekerja

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Setelah seluruh tantangan selesai, peserta kembali berkumpul untuk mengikuti sesi debrief. Kali ini, refleksi tidak hanya berfokus pada satu permainan, tetapi pada keseluruhan perjalanan yang telah mereka lalui. Bersama Team Coach, peserta diajak melihat kembali bagaimana mereka berkomunikasi, mengambil keputusan, menghadapi kesulitan, dan bekerja sama untuk menyelesaikan setiap tantangan.

Pengalaman tersebut juga dihubungkan dengan nilai-nilai AKHLAK: Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Nilai-nilai yang selama ini dikenal sebagai bagian dari budaya kerja kini memiliki gambaran yang lebih nyata melalui pengalaman peserta sendiri. Dari cara seseorang menjalankan tanggung jawabnya, mendengarkan pendapat rekan kerja, hingga membantu anggota tim ketika menghadapi kesulitan.

Dari Kelompok Kecil Menjadi Satu Tim Besar

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan Tantangan

Perjalanan hari itu ditutup dengan satu tantangan terakhir, Momentum Makers. Jika sebelumnya peserta bekerja dalam kelompok masing-masing, kali ini seluruh kelompok harus menggabungkan hasil pekerjaannya menjadi satu rangkaian besar. Setiap kelompok bertanggung jawab membangun satu bagian dari rangkaian reaksi berantai. Bagian tersebut kemudian dihubungkan dengan bagian kelompok lainnya agar gerakan dapat diteruskan dari awal hingga akhir. Tantangannya bukan lagi tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan pekerjaan, tetapi bagaimana seluruh kelompok dapat bekerja bersama. Satu bagian yang sudah selesai belum tentu cukup jika belum bisa terhubung dengan bagian berikutnya. Setiap kelompok perlu berkomunikasi, menyesuaikan rancangan, dan memastikan hasil pekerjaannya mendukung keseluruhan rangkaian.

Momentum Makers menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah organisasi bekerja. Setiap orang dan setiap divisi memiliki tanggung jawab masing-masing. Namun, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh hasil kerja satu bagian, melainkan bagaimana seluruh bagian dapat saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.

Karena hasil yang besar tidak selalu lahir dari satu kelompok yang paling hebat, tetapi dari banyak kelompok yang mampu bergerak ke arah yang sama.

Pengalaman yang Dibawa Kembali ke Tempat Kerja

Ketika Team Building Bukan Sekadar Menyelesaikan TantanganDari Geodesic Dome hingga Momentum Makers, setiap tantangan memberikan pengalaman yang berbeda.

Ada saatnya peserta harus mencoba sesuatu yang baru, menghadapi kesulitan, memperbaiki strategi, hingga menyesuaikan diri dengan cara kerja orang lain.

Seluruh perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses membangun kesiapan peserta dalam menjalankan peran barunya di PT PP.

Melalui pengalaman dan refleksi, peserta diajak memahami bahwa Resilience, Growth Mindset, dan Learning Agility bukan sekadar kemampuan individu, tetapi juga diperlukan untuk membangun tim yang mampu menghadapi tantangan dan terus berkembang.

Bagi Duage Team Building, setiap aktivitas menjadi kesempatan untuk menghadirkan pengalaman, membangun interaksi, dan membantu tim memahami cara mereka bekerja bersama.

Karena pada akhirnya, keberhasilan Team Building bukan hanya tentang berapa banyak tantangan yang berhasil diselesaikan.

Tetapi tentang apa yang dipelajari selama prosesnya, dan bagaimana pembelajaran tersebut dapat dibawa kembali ke tempat kerja.

Duage Team Building | PT PP (Persero) Tbk STAR Program 48 | PP University, Puncak Gadog, Bogor | 6 Agustus 2026


(ZA)

© 2013-2024 PT. Duage Manajemen Indonesia

Log in with your credentials

Forgot your details?