Skuter, Peta, dan Anjungan: Cara Clariant Menemukan Ritme Timnya

Skuter, Peta, dan Anjungan: Cara Clariant Menemukan Ritme Timnya

Skuter, Peta, dan Anjungan: Cara Clariant Menemukan Ritme TimnyaDi antara diorama budaya dan jalanan TMII, PT Clariant Indonesia menemukan bahwa cara terbaik membangun tim bukan duduk di ruang rapat tapi bergerak bersama, berpikir cepat, dan saling menjaga arah.

Awal yang Tidak Biasa
Kamis, 19 Juni 2025, para peserta dari PT Clariant Indonesia tidak menuju ruang meeting seperti biasanya. Mereka berkumpul di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bukan untuk wisata, tapi untuk sesuatu yang berbeda: sebuah perburuan petunjuk melintasi anjungan-anjungan budaya Nusantara.

Namanya Nusantara Hunt. Dan sejak momen pertama, sudah jelas ini bukan sekadar acara refreshing kantor.

Kolaborasi yang nyata tidak lahir dari slide presentasi. Ia lahir dari momen-momen kecil: siapa yang tahan berdebat, siapa yang mengalah, siapa yang tetap fokus ketika waktu menipis.

Skuter, Peta, dan Anjungan: Cara Clariant Menemukan Ritme TimnyaMembuka Jarak yang Biasanya Tak Terlihat
Sebelum perburuan dimulai, peserta terlebih dahulu menjalani sesi ice breaking yang dirancang bukan untuk mengisi waktu, tapi untuk mengikis jarak sosial yang kerap tak disadari dalam lingkungan kerja sehari-hari. Di sini, tidak ada atasan atau bawahan hanya individu yang harus mulai berbicara, mulai percaya, mulai bekerja sama.

Setelah suasana mencair, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap tim menyepakati cara kerja dan pembagian peran sebelum terjun ke tantangan utama. Bukan instruksi dari atas tapi keputusan bersama.

Skuter, Peta, dan Anjungan: Cara Clariant Menemukan Ritme TimnyaBergerak, Berpikir, Berkoordinasi
Nusantara Hunt dimulai dari Anjungan Papua sebagai titik tolak, kemudian mengalir ke berbagai anjungan lainnya Anjungan Lampung, dan deretan anjungan budaya Nusantara yang tersebar di kawasan TMII. Setiap titik menyimpan tantangan berbasis petunjuk yang menuntut tim untuk berpikir cepat dan bertindak bersama.

Transportasi antar anjungan? Skuter listrik. Pilihan yang ternyata bukan sekadar soal efisiensi jarak tapi tentang bagaimana tim menjaga ritme, mengatur kecepatan bersama, dan memastikan tidak ada anggota yang tertinggal secara harfiah maupun figuratif.

Di sinilah pola kerja tim yang sesungguhnya mulai muncul ke permukaan. Siapa yang cenderung mengambil keputusan cepat? Siapa yang lebih teliti membaca petunjuk? Siapa yang menjaga semangat tim ketika tantangan terasa buntu? Semua terlihat jelas, tanpa perlu tes psikometri.

Perpindahan dari satu anjungan ke anjungan berikutnya jadi metafora yang hidup: perjalanan tim bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi tentang siapa yang tiba bersama.

Refleksi yang Membumi
Ketika semua tantangan telah diselesaikan, peserta berkumpul kembali untuk sesi penutup. Bukan evaluasi formal, bukan penilaian performa tapi refleksi sederhana: apa yang berjalan baik, apa yang bisa lebih baik, dan apa yang ingin dibawa pulang ke tempat kerja.

Pengalaman menjelajahi anjungan-anjungan TMII menjadi bahasa bersama yang baru. Sebuah referensi yang bisa dirujuk ketika nanti tim menghadapi dinamika nyata di kantor.

Duage: Di Balik Layar
Seluruh rangkaian Nusantara Hunt ini difasilitasi oleh Duage sebagai mitra penyelenggara experiential learning. Mulai dari perancangan alur aktivitas, fasilitasi setiap sesi, hingga memastikan setiap momen berjalan selaras dengan satu tujuan: memperkuat kerja tim yang nyata dan berkelanjutan bukan sekadar fun day yang terlupakan dalam seminggu.

Nusantara Hunt bersama PT Clariant Indonesia membuktikan satu hal sederhana: membangun tim yang solid tidak harus rumit dan mahal. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang tepat, tantangan yang dirancang dengan cermat, dan kesempatan untuk bergerak bersama secara literal.

 

Duage Management
Tim yang solid bukan kebetulan, tapi dirancang.

(NRA)

© 2013-2024 PT. Duage Manajemen Indonesia

Log in with your credentials

Forgot your details?