4 hal penyebab masalah dalam Tim KKN Desa Penari

Tim KKN Desa Penari

Masih ingat dengan cerita Tim KKN di Desa Penari yang lagi nge-hits ?… Yang kisahnya sedang diburu dan diminati kalangan millenials itu lho.

Cerita Tim KKN Desa Penari merupakan cerita horror yang sedang ramai diperbincangkan di jagad maya, terutama di media sosial Twitter. Banyak yang berkata bahwa cerita Desa Penari merupakan cerita fiktif belaka. Tapi, kali ini kita gak usah bahas dari sisi seramnya ya, soalnya takut kalo lagi sendirian. Hehe..

Dari cerita Desa Penari ini, ternyata banyak banget pelajaran yang bisa dilihat dari cerita tersebut. Salah satunya adalah kondisi internal dari Tim KKN di Desa Penari itu sendiri. 

Meskipun tidak dikupas secara mendalam, berikut ini sedikitnya terdapat 4 pelajaran penting yang dapat dipetik, mengenai penyebab terjadinya masalah di dalam Tim KKN Desa Penari tersebut.

Yuk, coba kita simak lebih lanjut !

1. Membuat tim seadanya

Latar belakang pembentukan Tim KKN di Desa Penari, yang dibuat oleh sekumpulan mahasiswa untuk melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat, dilakukan secara mendadak serta tanpa mengenal satu sama lain.

Hal tersebut diatas menjadikan tidak adanya keterikatan yang jelas antar masing-masing anggota, sehingga menimbulkan kurangnya rasa peduli antar anggota tim. Tak heran bila masih banyak anggota tim yang merasa terpaksa bekerja didalam tim tersebut.

Membuat tim atau membangun tim, seyogianya harus dipahami tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena tim tentunya berbeda dengan kelompok. Membuat tim tidak bisa dengan seadanya. Setidaknya harus berusaha mencoba mengenal karakter masing-masing.

Membuat tim tidak bisa juga dengan asal mengambil anggota yang belum tentu mampu untuk melakukan pekerjaan yang akan diberikan. Disamping itu, dalam membentuk tim sebaiknya harus meninjau terlebih dahulu kebutuhan anggota tim, guna mengefesiensikan peran kegunaan maupun fungsi dalam kelompoknya.

 

2. Tidak ada kontrol dalam tim

Beberapa anggota melakukan hal yang tidak sesuai dengan tujuan pembentukan Tim.

Sangat di sayangkan apabila tujuan yang baik dari KKN tersebut, dilaksanakan dengan cara yang tidak sesuai. Maka tentunya hasil akhir yang didapat, tidak sama dengan hasil awal yang diharapkan. Bahkan dalam hal ini, terlepas dari benar atau tidaknya, berubah menjadi sebuah malapetaka. Hiiii…

Dalam membangun tim seharusnya ada fungsi yang dapat mengontrol tim tersebut, seperti penunjukan ketua tim misalnya.

Peran ketua tim berfungsi penting dalam memimpin serta melakukan kontrol, atas pelaksanaan segala kegiatan yang dilakukan tim, dengan cara mengorganisir anggota sesuai dengan fungsi, peran, maupun tugasnya masing-masing agar sesuai dengan tujuan bersama yang diharapkan. Sayangnya, Tim KKN Desa Penari tidak memilikinya.

 

3. Tidak memiliki komitmen dan fokus dalam bekerja

Untuk mencapai suatu tujuan, komitmen dan fokus termasuk salah satu hal yang terutama.

Contoh sederhananya seperti tim ini. Ketika sedang melakukan KKN di Desa Penari. Dimana tujuan mereka melakukan sebuah program kerja untuk Desa tersebut, tetapi beberapa anggota dalam tim tersebut melakukan pekerjaan lain yang tidak ada kaitannya dengan tujuan awal. Yang berakibat bukanlah hasil positif yang didapat, tetapi masalah yang terus menerus datang, bahkan semakin berkembang.

Untuk itu, suatu tim atau organisasi perlu berkomitmen untuk fokus dalam satu hal yang telah ditetapkan, serta tidak keluar dari acuan yang digariskan.

Dengan adanya komitmen yang sudah menetap dan terarah, tentu dapat memudahkan dalam mencapai tujuan organisasi. Dan tentu saja, membuat komitmen tidak semudah memulai suatu hubungan. Terdapat beberapa hal yang perlu terus diuji dan dilatih untuk memiliki komitmen yang baik didalam tim. 

 

4. Kurangnya komunikasi dan keterbukaan dalam tim

Sama seperti hubungan, dalam suatu tim atau organisasi, komunikasi menjadi suatu hal yang penting.

Kurangnya komunikasi yang terjalin, acap kali menjadi sumber awal dari konflik. Perbedaan persepsi dengan anggota lain, adanya misscom, saling tidak tahu menahu mengenai peran atau tugas masing-masing anggota tim, bahkan tidak adanya kedekatan secara emosional menjadi efek negatif yang timbul dari kurangnya jalinan komunikasi maupun budaya keterbukaan yang baik.

Seperti yang dilakukan anggota Tim saat melakukan KKN tersebut. Mereka saling tidak mengetahui mengenai keadaan anggota secara personil, maupun kesulitan yang sedang dihadapi oleh timnya secara keseluruhan. Akibatnya, segala masalah yang sejak awal timbul dan seharusnya dapat diselesaikan bersama – sama sejak dini, baru dapat diketahui belakangan sehingga terlambat untuk diselesaikan.

 

——–

Setelah membahas sisi lain dari Desa Penari, terlihat banyak hal yang dapat dipelajari untuk membentuk atau membangun sebuah Tim yang baik dan sukses. Agar tentunya, Tim yang terbentuk tidak mengalami kejadian seperti Tim KKN Desa Penari. Hiiii…

Untuk dapat membentuk tim yang baik dan sukses,  dapat dilatih dengan berbagai macam cara. Kamu bisa membaca artikel kami lainnya tentang bagaimana membentuk tim yang efektif dan berkinerja tinggi di situs utama Duage Management.

Membuat Tim yang efektif dan berkinerja tinggi dengan GRPI Model

Atau, kamu punya pendapat lain yang belum disampaikan diatas ??, silahkan isi pada kolom komentar dibawah.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

© 2007-2017 PT. Duage Manajemen Indonesia
WhatsApp Chat Dengan WhatsApp

Log in with your credentials

Forgot your details?